It’s not what to say, but how to say..

Kalimat diatas sering saya dengar bahkan saya baca dimana2 (lupa lagi) tapi ketika seorang dosen mengatakan kalimat itu kepada saya, entah kenapa sampai sekarang sangat berkesan dan selalu teringat bila ada kejadian yang related with the statement.

Seperti hal nya malam ini, ketika saya mengkomunikasikan sesuatu yang mengganggu pada saat baru tiba di rumah maka terjadi ke tidak sepahaman (bukan kesalah pahaman) antara saya dan bapak.

Dalam kondisi  normal sekalipun (tanpa ada distorsi perasaan kesal atau emosi) kadang komunikasi kami masih tidak sepaham, saya mengerti sekali karena kami berbeda generasi dengan cara pandang terhadap suatu masalah yang pastinya berbeda. Dan tentunya sebagai anak yang menghormati orang tua, saya pasti akan mengalah (atau memang disuruh kalah ??). Tapi malam ini, saya merasa terganggu karena ruang pribadi saya telah dimasuki. Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan ke timuran (dan ke jawa an), bapak saya mengharapkan saya bertingkah laku layaknya seorang anak penurut yang tidak banyak omong dan membantah (baca : mengkritisi) orang tua. Tapi  lingkungan diluar “rumah” saya tidak hanya berisi adat ke timur an atau ke Jawa an, banyak hal di luar sana baik itu lingkungan pendidikan maupun pergaulan yang memberi banyak eksposure terhadap saya. Maka pola pikir dan cara pandang saya terhadap sesuatu pun akan berbeda dengan apa yang di anut orang tua.

Ternyata, sedikit banyak hal tersebut mempengaruhi cara saya berkomunikasi dengan orang tua, ingat ya “Cara” saya, berarti “How to say” or “How to communicate”….Yang terkadang (sering sih) malah tidak sesuai dengan cara orang tua saya terutama bapak.

Dulu, saya pikir karena waktu remaja, emosi saya sedang tidak stabil, karakter anak remaja yang ingin selalu berbeda menyebabkan saya ingin selalu melakukan sesuatu dengan cara saya. Dan jangan di tanya berapa banyak friksi yang terjadi dalam rumah saya sehubungan dengan “what to say” dan “How to say” ini.

Tapi setelah selesai kuliah dan bekerja, semua itu mereda, sebenarnya lucu kalau melihat hubungan saya dengan bapak. Kami mungkin berbeda pendapat dalam banyak hal, tapi kami juga sering sependapat dalam banyak hal.

Terlepas dari hubungan darah bapak dan anak yang tentu saja menjelaskan kenapa kami kadang serupa dalam sikap, sebenarnya bapak saya adalah teman berdiskusi yang menyenangkan. Dengan bapak pula selama bertahun – tahun saya terbiasa berdiskusi tentang berbagai hal, mulai hal kecil sampai masalah dunia dan agama. Mungkin ini yang menyebabkan saya terbiasa mengeluarkan pendapat bila ada sesuatu yang menggugah saya untuk berpendapat.

Yaa kembali dengan bapak, saya memutuskan untuk menahan diri  agar tidak menyinggung perasaan bapak malam ini walapun sebenarnya saya masih kesal sekali. Dengan semakin dewasa, saya belajar untuk tidak selalu “mengeluarkan pendapat” bila saya berkomunikasi dengan orang tua, saya akan membiarkan mereka tetap dengan pendiriannya selama itu tidak bertentangan dengan prinsip saya pribadi. Apa itu yang dinamakan bijak dalam menghadapi sesuatu, saya juga tidak tahu, tapi yang jelas saya hanya ingin menghormati orang tua saya.

Happy wedding anniversary Mom & Dad…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s