Peci

cariin yang polos, nomer 5 atau 6, bawa contohnya aja deh biar tau persisnya nomer berapa. Jam 08.00 malem takbiran harus cari peci warna hitam polos buat sholat Ied besok, bapak ga suka yang motif macem2 apalagi model jaring jaring segala, maunya polos aja, yang biasa aja yang penting enak dipakai.

Peci lama bapak enak banget dipakai, bisa buat melindungi kepala kalau dingin kena AC juga, pokoknya multifungsi deh.

Setelah berjibaku dengan orang – orang yang ga tau saking senangnya besok Lebaran atau emang pengen menghabiskan uang THR aja, akhirnya Peci hitam pesanan bapak yang mirip dengan peci lama nya itu dapet juga. Sudut tempat peci dan sarung di display cuma sebagian kecil dari satu lantai tempat segala wardrobe laki2 di mall itu tapi sudut kecil yang rame nya cuma pas bulan puasa itu ruameee banget. Bayangin aja musti rebutan peci sama bapak – bapak dan ibu – ibu yang juga punya tujuan sama, beli peci baru buat sholat Ied.

Bapak seneng banget dapet peci baru, apalagi mirip sama peci lamanya yang enak banget dipakai. Perasaan senang bapak bukan cuma karena dapet peci baru aja, tapi karena peci yang baru ini dibeliin sama anaknya, katanya jadi ngerasa udah tua karena dulu biasanya klo lebaran ritualnya kan orang tua beliin buat anaknya tapi sekarang bapak dibeliin peci sama anaknya, hihihih….

Peci baru bapak dicobain didepan tipi sambil bergaya2, tapi karena besok mau lebaran, jadi rumah harus rapi, peci baru bapak saya simpan diatas lemari dikamarnya. Pagi – pagi jam setengah 7, mama ku udah ribut ngajakin cepet – cepet ke lapangan sementara bapak masih sibuk siap – siap pake baju kokonya

akhirnya aku, mama dan adikku pergi duluan buat sholat ied, ga lama setelah kita mendapat tempat sholat di lapangan, bapak lewat bukan dengan peci barunya tapiiiii peci hitam polosnya yang lama, aku pandang2an dengan dani adikku sambil cekikikan berdua karena kita tau pasti bapak lupa dimana tempat peci barunya disimpan heheheheh…….

Selesai sholat ied dan tiba waktunya bersungkeman ria dirumah baru bapak bercerita tadi lama karena mencari peci barunya itu dan kita semua tertawa hahhahaha……. 

Mohon maaf ya pak jadi ga bisa pakai peci baru pas sholat Ied, tapi pas salam – salaman akhirnya bapak bisa pakai peci baru kebanggaannya 🙂

Advertisements

It’s not what to say, but how to say..

Kalimat diatas sering saya dengar bahkan saya baca dimana2 (lupa lagi) tapi ketika seorang dosen mengatakan kalimat itu kepada saya, entah kenapa sampai sekarang sangat berkesan dan selalu teringat bila ada kejadian yang related with the statement.

Seperti hal nya malam ini, ketika saya mengkomunikasikan sesuatu yang mengganggu pada saat baru tiba di rumah maka terjadi ke tidak sepahaman (bukan kesalah pahaman) antara saya dan bapak.

Dalam kondisi  normal sekalipun (tanpa ada distorsi perasaan kesal atau emosi) kadang komunikasi kami masih tidak sepaham, saya mengerti sekali karena kami berbeda generasi dengan cara pandang terhadap suatu masalah yang pastinya berbeda. Dan tentunya sebagai anak yang menghormati orang tua, saya pasti akan mengalah (atau memang disuruh kalah ??). Tapi malam ini, saya merasa terganggu karena ruang pribadi saya telah dimasuki. Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan ke timuran (dan ke jawa an), bapak saya mengharapkan saya bertingkah laku layaknya seorang anak penurut yang tidak banyak omong dan membantah (baca : mengkritisi) orang tua. Tapi  lingkungan diluar “rumah” saya tidak hanya berisi adat ke timur an atau ke Jawa an, banyak hal di luar sana baik itu lingkungan pendidikan maupun pergaulan yang memberi banyak eksposure terhadap saya. Maka pola pikir dan cara pandang saya terhadap sesuatu pun akan berbeda dengan apa yang di anut orang tua.

Ternyata, sedikit banyak hal tersebut mempengaruhi cara saya berkomunikasi dengan orang tua, ingat ya “Cara” saya, berarti “How to say” or “How to communicate”….Yang terkadang (sering sih) malah tidak sesuai dengan cara orang tua saya terutama bapak.

Dulu, saya pikir karena waktu remaja, emosi saya sedang tidak stabil, karakter anak remaja yang ingin selalu berbeda menyebabkan saya ingin selalu melakukan sesuatu dengan cara saya. Dan jangan di tanya berapa banyak friksi yang terjadi dalam rumah saya sehubungan dengan “what to say” dan “How to say” ini.

Tapi setelah selesai kuliah dan bekerja, semua itu mereda, sebenarnya lucu kalau melihat hubungan saya dengan bapak. Kami mungkin berbeda pendapat dalam banyak hal, tapi kami juga sering sependapat dalam banyak hal.

Terlepas dari hubungan darah bapak dan anak yang tentu saja menjelaskan kenapa kami kadang serupa dalam sikap, sebenarnya bapak saya adalah teman berdiskusi yang menyenangkan. Dengan bapak pula selama bertahun – tahun saya terbiasa berdiskusi tentang berbagai hal, mulai hal kecil sampai masalah dunia dan agama. Mungkin ini yang menyebabkan saya terbiasa mengeluarkan pendapat bila ada sesuatu yang menggugah saya untuk berpendapat.

Yaa kembali dengan bapak, saya memutuskan untuk menahan diri  agar tidak menyinggung perasaan bapak malam ini walapun sebenarnya saya masih kesal sekali. Dengan semakin dewasa, saya belajar untuk tidak selalu “mengeluarkan pendapat” bila saya berkomunikasi dengan orang tua, saya akan membiarkan mereka tetap dengan pendiriannya selama itu tidak bertentangan dengan prinsip saya pribadi. Apa itu yang dinamakan bijak dalam menghadapi sesuatu, saya juga tidak tahu, tapi yang jelas saya hanya ingin menghormati orang tua saya.

Happy wedding anniversary Mom & Dad…