SocMed for Newbie

Judul diatas jangan langsung diartikan seperti yang tertulis ya, karena kata2 itu sebenarnya ditujukan untuk teman – teman marketing yang belum sepenuhnya aware dengan social media.
Minggu lalu kebetulan saya diajak ikut ketemuan dengan beberapa onliner yang namanya cukup populer di ranah per twitter an, sebelum menjamah twitter pun sebenarnya mereka sudah eksis di jagat online karena umumnya mereka adalah blogger.
Yang menarik adalah, ternyata saya satu2nya partisipan tweet up yang berasal dari client side, jadilah mereka bertanya2 tentang orang2 marketing kepada saya (tentunya marketing yang berasal dari client side).

Keheranan atau keingintahuan mereka sederhana saja (menurut mereka lho), ada apa dengan para marketer yang tidak mengerti dengan social media dan kenapa orang marketing ko bisa-bisanya tidak mengerti social media.

Saya harus mengambil nafas sejenak dan mengatur kata – kata untuk menjawab ini dan pada saat yang sama, semua mata dan posisi tubuh mereka mengarah kepada saya.
Begini kurang lebih penjelasan saya…

Marketing itu luas sekali dan tidak hanya terbatas pada brand people saja, sebutan marketing itu bisa mencakup product management, brand management, marketing communication, business development dan banyak lagi. Bahkan banyak perusahaan yang merekrut tenaga marketing yang juga memiliki background sales sehingga umumnya mereka menyandang title “Sales&Marketing”. Tidak perlu saya jelaskan perbedaan sales dan marketing disini karena memang bukan tempatnya dan bukan tujuan dari tulisan ini.
Kemudian saya mengambil contoh seorang Product Manager atau Brand Manager, scope of work mereka juga luas sekali, harus berurusan dengan produksi, distribusi, sales, komunikasi yang termasuk ATL, BTL, PR, Online dan sebagainya. Mereka harus membagi perhatiannya ke beberapa bagian dan itu semua harus berjalan dengan baik karena center of attention adalah brand people.

Jadi bisa dilihat bahwa untuk urusan komunikasi (dimana social media ada didalamnya), mereka akan banyak bekerja sama dengan 3rd party yaitu agency. Dan tidak hanya satu agency saja, ada Ad Agency, BTL Agency, PR Agency, Research Agency, Online Agency dll. Dan lagi – lagi seorang brand people harus mampu me manage semua agency ini agar tidak terjadi overlapping sehingga konsep komunikasi bisa in line dengan konsep brand tersebut.
Sampai disini, mereka sudah mulai manggut – manggut, saya lanjut lagi dengan semangat..
Intinya adalah wajar bila para marketer ini tidak terlalu aware dengan dunia social media (khususnya twitter) karena biasanya mereka menyerahkan urusan teknis ini kepada agency nya. Yang terpenting buat para marketer ini adalah resultnya yaitu awareness, persepsi dan ujung2nya intention to buy.

Sementara itu, saya pun agak setuju dengan pendapat para onliner dimana proses brand dalam social media juga akan menentukan result yang mereka inginkan. Disinilah perlu knowledge dan pemahaman tentang dunia socmed, tidak hanya sebatas memiliki akun socmed tapi juga terlibat didalamnya sehingga sense of belonging akan terbentuk dan mengerti etika dalam memasarkan sebuah produk melalui social media.
Dan.. hasil dari diskusi singkat kami adalah pemikiran untuk memperkenalkan social media secara proper kepada para marketer, tidak hanya terbatas pada brand people tapi juga terbuka untuk para praktisi yang mengaku dirinya marketer.

Karena kami sadar tidak semua produk atau service harus masuk social media, tidak perlu latah kalau ada brand yang punya account twitter terus berarti brand kita harus punya juga. Yang penting adalah bagaimana caranya memanfaatkan social media untuk kepentingan brand kita. Misalnya dengan desk research through social media, kita bisa melihat feedback konsumen baik yang negatif ataupun yang positif dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan.

Just my 2 cents
Bukan onliner dan bukan marketer, but i love twitter 😉

Tulisan ini juga pernah saya post di sini pada tanggal 3 agustus 2010

Advertisements