Hidup itu Belajar

Seperti caption saya pada blog ini maka inilah judul yang sepertinya relevan untuk saya saat ini.

Hidup itu proses belajar tanpa akhir karena manusia akan selalu dihadapkan pada peristiwa yang mungkin pernah dialami sebelumnya atau sama sekali baru dalam hidupnya.
Belum tamat kiranya saya belajar untuk selalu bersyukur, kini saya harus belajar ikhlas, ilmu paling tinggi dalam sekolah kehidupan. Mungkin kalau ada tutorial atau buku ikhlas for dummies saya akan langsung beli, sayangnya belum ada yang membuatnya. Ikhlas yang “harus” saya pelajari disinipun tingkatannya lebih tinggi dari ikhlas yang biasa kita praktekkan setiap pagi di toilet.

Ikhlas yang membutuhkan tuntunan step by step ini tentang sesuatu yang berhubungan dengan sebuah perasaan… Perasaan Cinta.

Sebenarnya saya pun geli dengan kata Cinta, saya lebih memilih menyebutnya dalam bahasa inggris, <em>Love is more convenient to say than</em> Cinta. Atau bila saya harus menyebutnya dalam bahasa kita tercinta, saya lebih memilih kata Sayang. Buat saya, Cinta itu adalah Sayang. Ok tapi ini bukan tentang kata kata.

Bila penasaran mengapa Cinta harus dikaitkan dengan pelajaran ikhlas, maka jawabannya karena saya harus mengikhlaskan perasaan cinta yang begitu mendalam.
Cinta yang membuat saya menitikkan airmata dan menimbulkan duka tak terkira.
Cinta yang telah meluluh lantakkan dunia saya yang dulu baik baik saja.
Cinta yang telah membuat saya kehilangan semangat berkarya.
Cinta yang datang menghampiri tanpa saya sadari.
Cinta yang tak pernah saya minta.

Dan Yang Maha Pemberi menjatuhkan cinta itu kedalam hati maka manusia mana yang kuasa menolak pemberian Sang Pemilik Hati.
Maka jatuhlah saya kedalam perasaan yang menguras emosi. Saya yang tak tahu cara membuka hati tiba tiba merasakan sejumlah emosi yang terangkum dalam satu kata… Cinta.

Dan kini, saatnya saya harus belajar mengikhlaskan walau belum merelakan. Seperti harus merampungkan satu buku padahal belum selesai mempelajari bab demi bab nya. Ya saya memang sedang mempelajari bagaimana mencintai, ternyata tidak semudah yang dikira selama ini.
Saya belajar bahwa perasaan ini kadang membuat saya menjadi kuat.
Saya belajar bahwa ternyata saya bisa melumpuhkan ego demi sang terkasih.
Saya belajar bahwa ternyata saya bisa mengesampingkan kesedihan saya demi membuatnya nyaman.
Saya belajar bahwa ternyata secara tak sadar saya tersenyum ketika melihat dia tersenyum.

Saya menikmati itu semua walau diam diam sering menitikkan airmata karena tidak tahu apakah dia merasakan cinta yang sama. Lalu datanglah jenis perasaan lain yang sangat menguras emosi, membuat saya sering terjaga dimalam buta. Perasaan yang membuat saya menjadi negative karena tak mampu menahan diri dan emosi ketika melihat cinta saya perlahan lahan pergi.

Dan kini, rasa sakit yang tersisa. Sakit sekali sampai sulit untuk sekedar mencoba bangkit. Bukan hanya kehilangan cinta tapi saya juga kehilangan diri.

Kemanapun saya mencari jawaban akhirnya hanya berujung pada satu kesimpulan, saya butuh keikhlasan.

Dan ketika saya sadar bahwa semua berasal dari Tuhan, maka semua itu bisa diambil pula oleh Tuhan.
Saya cuma bisa memohon agar diambil segala kesedihan dan diganti dengan segala keikhlasan, diusia yang kini telah ditambahkan oleh Tuhan.

22 Desember 2014,
di penghujung hari kelahiran