Jogja

Great escape

3 hari saya berada di Jogja minggu lalu.. yang pasti untuk urusan pekerjaan. Ada rasa yang berbeda ketika saya menginjakkan kaki di tanah Jogja begitu pesawat mendarat, bahkan saya hampir tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang tengah dialami, yang saya tau… saya senang sekali bisa kembali ke kota ini.

Perasaan senang itu saya tunjukkan dengan berkali – kali up date status facebook dan merencanakan untuk makan siang di tempat favorit saya. Dalam perjalanan menuju kantor di Jogja, saya mengamati jalan dan tempat yang terlewati, juga pengendara sepeda motor yang merupakan transportasi utama disana (katanya).

Cuaca yang agak mendung hari itu sangat menunjang perasaan campur aduk antara senang, kangen dan sedih karena berada di Jogja. Sedih..? ya saya sedih karena teringat lebih dari setahun yang lalu saya pernah berlibur bersama teman – teman ke Jogja untuk melepaskan penat dan lari sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. Waktu itu saya harus membuat keputusan yang sangat penting dan saya sangat tidak yakin akan keputusan itu. Untuk menenangkan diri, saya pilih Jogja sebagai tempat pelarian.

Dalam perjalanan menuju kantor, semua yang saya dan teman – teman lakukan tahun lalu di Jogja terlintas satu persatu seperti sebuah film kilas balik. tidak terasa ternyata saya tersenyum mengingatnya dan sedih mengenangnya.

setelah singgah sebentar di kantor dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, saya pergi untuk makan siang bersama rekan kantor. pilihan saya jatuh kepada SGPC, tempat jual nasi pecel yang terletak di depan kampus kedokteran hewan UGM.

SGPC bukan tempat yang bagus atau mewah, malah jauh sekali dari kesan itu. justru kesederhanaan tempat ini yang membuat saya kepingin balik lagi, ditambah dengan alunan live music dari home band nya…

jangan salah… SGPC punya band sendiri yang bermain pada saat jam makan siang. band ini memakai seragam batik seperti halnya para pelayan SGPC dan mereka menyanyikan lagu2 yang sedang nge trend saat ini atau beberapa lagu barat dengan sesekali di sisipkan irama keroncong… hihihihi kebayang kan lagu barat versi keroncong. alat musik yang digunakan tidak berbeda dengan band pada umumnya hanya saja bass yang digunakan adalah bass betot.. lengkap sudah ke jadoel an band ini.

menu makanan nya sangat sederhana sekali, yaitu nasi pecel yang kalau bahasa jawa nya “Sego Pecel” dan sayur sop, dengan tambahan lauk seperti tempe goreng, tahu goreng, sate telor puyuh dan beberapa jenis gorengan lainnya.. sangat Indonesia lah pokoknya.
minuman yang disediakan ada beberapa macam, tapi yang paling sering dipesan adalah es teh manis dan es jeruk peres, sedangkan minuman jenis soda – soda an atau teh dalam kemasan botol itu pun kalah pamornya.

meja dan kursi dari kayu dengan model yang sederhana ditambah beberapa foto pemilik warung pecel ini menambah kesan jadul SGPC.. tapi suasana itulah yang entah kenapa saya sangat menyukainya.

kebetulan saat saya makan disana pas jam makan siang sehingga sempat menyaksikan home band ini beraksi, makanan.. minuman.. warung yang sederhana.. ditambah pemain musik dengan bass betotnya sungguh memberikan pengalaman yang menyenangkan dan membuat saya ingin kembali ke tempat ini lagi.

Malam hari saya tiba di hotel jam 9 malam dan tidak memungkinkan untuk jalan – jalan di Malioboro, salah satu jalan yang sangat terkenal di Jogja, padahal hotel tempat saya menginap ada di ruas jalan itu.
tapi saya tidak mungkin melewatkan malioboro yang sudah di depan mata begitu saja walaupun sudah malam. jadilah saya tetap menyusuri jalan itu walaupun sebagian toko dan penjual pernak pernik mulai membereskan dagangannya. saya sengaja tidak menggunakan becak atau andong karena saya hanya ingin menyusuri jalan sambil melihat – lihat aktifitas yang ada disana..

beberapa penjual sudah mulai membereskan dagangannya tapi masih ada beberapa yang masih berupaya mencari rejeki karena melihat lalu lalang pengunjung yang masih ramai. di beberapa tempat juga terlihat penjual gudeg mulai membuka dagangannya, harum sekali aromanya…
tidak jauh dari tempat gudeg, ada tukang angkringan yang sedang menyeduh kopi untuk pelanggan dan disebelahnya ada seorang simbah yang sedang merapikan penganan kecil jualannya…

sang simbah langsung aktif menawarkan dodol atau bakpia begitu saya mendekati mejanya..tapi tetap dengan bahasa jawa yang sopan dan saya hanya tersenyum sambil menolak halus dodolnya..

saya lanjutkan perjalanan menyusuri jalan malioboro, kali ini berbalik arah menuju hotel. disalah satu sudut jalan saya berhenti sejenak sambil memperhatikan nama tokonya, dan ternyata itu adalah tempat saya makan bebek bersama teman2 tahun lalu.. namanya bebek terang bulan 🙂

wah kangen sekali rasanya makan ditempat itu bersama teman2 dan tertawa2 seperti dulu, entah kapan bisa berlibur bersama mereka lagi.

perjalanan saya di Malioboro sudah harus selesai karena besok pagi saya harus kembali bekerja…

Selain SGPC dan Malioboro, banyak tempat lain di Jogja yang ingin saya singgahi, keramahan dan kesederhanaan Jogja tidak pernah cukup untuk saya.. apalagi ditambah kenangan liburan bersama teman.

kalau dipikir2 tidak ada satu hal khusus yang menarik di kota ini, cumaa… Jogja itu ngangenin dan membuat siapapun ingin kembali lagi dan merasakan keramahannya…

Advertisements