Bersyukur

Tadi sore, ditengah kemacetan jalan Jakarta yang tak pernah rampung, saya mendengarkan sedikit kisah tentang seorang mualaf dari sebuah radio anak muda yang cukup terkenal di Jakarta.

Mualaf itu mengatakan bahwa dia iri dengan orang – orang yang sudah menjadi muslim sejak lahir, seketika saya menahan tangan yang sudah ingin mengganti channel radio saat itu. menurutnya orang – orang selalu mengatakan bahwa mualaf itu pasti lebih rajin beribadah karena mendapat hidayah dari Allah. dan menurut dia lagi, orang – orang itu salah, bahwa sebenarnya kita yang terlahir sebagai muslim sudah mendapat hidayah dari Allah setiap harinya. saya tertarik dengan pernyataan mualaf ini…

Setiap kita bangun pagi sebenarnya kita memiliki pilihan untuk murtad, tidak ada yang akan menghalangi atau menahan apakah kita mau murtad atau tidak. tapi toh kita tetap bangun di keesokan hari sebagai seorang muslim, tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya itu adalah sebuah hidayah dari Allah untuk hambanya. kita yang terlahir sebagai muslim mendapatkan hidayah Allah setiap harinya, hidayah menjadi seorang muslim. sementara si mualaf ini harus menjalani sekian tahun dari hidupnya menjadi seorang murtad baru akhirnya mendapatkan nikmat hidayah dari Allah.

Subhanallah sekali pemikiran dia, saat itu saya pun tersadar bahwa setiap harinya Allah sudah memberikan nikmat yang tak terkira… dan setiap harinya pula saya tidak menyadari hal itu, astaghfirullah…

Jangankan untuk mensyukuri nikmat muslim, bahkan menyadari anugerah yang diberikan pun tidak, betapa saya malu untuk mengakui bahwa saya benar benar hamba yang tidak tahu diri…

Kemudian saya berpikir yang lebih sederhana lagi, yaitu tentang mensyukuri nikmat yang sudah saya nikmati setiap harinya, setiap detiknya, setiap helaan nafasnya, saya lupa untuk mensyukuri semua yang ada..

Kemudian saya mengganti channel radio karena cerita mualaf itu sudah selesai, di radio yang lain ada seorang ustad yang sedang memberikan ceramah menjelang berbuka puasa, dan lucunya tema yang dia bawakan juga tentang bersyukur..

“Nikmat Allah itu tidak terukur asal kita bisa bersyukur” kata sang ustad, saya kembali merasa di tegur…

Begitu banyak nikmat yang sudah diberikan kepada saya, nikmat hidup, nikmat islam, nikmat keluarga, nikmat persahabatan, nikmat pekerjaan, nikmat pengetahuan… subhanallah..

Bila kita tidak bersyukur, jiwa kita akan selalu kering dan merasa haus, selalu meminta dan meminta lebih lagi karena tak pernah merasa cukup. Berapa kali dalam sehari saya mengucap Alhamdulillah ??

Saya malu sekali bila mengingat bahwa dalam setiap doa yang dipanjatkan hanya berisi permintaan, Ya Allah lancarkanlah pekerjaan saya, Ya Allah lancarkanlah kuliah saya, Ya Allah semoga hari ini saya tidak kena marah bos saya, Ya Allah semoga hari ini semua berjalan lancar, Ya Allah semoga saya bisa cepet – cepet naik gaji, Ya Allah semoga hari ini tidak macet supaya bisa ngopi2 bareng teman – teman, Ya Allah semoga hari ini si doi nelpon saya, Ya Allah semoga hari ini ketemu kecengan saya…

Ya Allah semoga Engkau mengampuni saya si hamba tak tau diri ini…

dan saya lupa untuk bersyukur…

Baru kali ini saya bisa merasakan sedihnya bertemu penghujung Ramadhan, karena ramadhan kali ini saya jadi lebih mengerti bahwa merasakan puasa di bulan suci ini adalah suatu nikmat yang terkira, dan bahwa menyadari kekhilafan saya selama ini adalah juga sebuah nikmat yang tak ternilai…

Alhamdulillah… terima kasih ya Allah, Engkau masih memperkenankan hamba untuk menyadari semuanya.. memperkenankan hamba untuk mensyukuri nikmat yang diberikan sebelum akhirnya alam semesta bersaksi atas kekhilafan yang dilakukan…

-hamba yang tak tahu diri-