Pilihan

Kata kata teman saya tadi sore ditelpon seperti tamparan kecil yang mendarat dengan mulus dan pas di pipi. Kata2 yang sebenarnya tidak saya harapkan dikatakan pada jam 4 sore ketika sedang mencari semangat dari dukungan seorang sahabat.

Temen : Lo orangnya pilih pilih sih, cari laki milih2, cari kerjaan milih2,
Saya : …. *Diem*
Temen : Udahlah hari gini ga usah kebanyakan milih, maunya kaya gimana sih?
Saya : ….. *tetep diem*

Belum juga selesai kediaman saya, dia makin bersemangat untuk menceramahi (baca:menyemangati) dan saya cuma bisa diam, mengiyakan dalam hati.

Apa yang salah dengan menginginkan pilihan, seumur hidup saya selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan seumur hidup pula saya selalu merasa memiliki berbagai pilihan. Kenapa tiba tiba saja seperti tidak ada pilihan lain dalam hidup.

Selama ini saya menentukan sendiri dan hidup dengan pilihan – pilihan yang terbentang atau menghampiri saya. Tidak pernah merasakan sulit sekali dalam menentukan pilihan dan ada kalanya saya terlalu penakut untuk memilih sehingga saya mengambil pilihan untuk tidak memilih apapun.

Tidak ada kesulitan yang tidak mungkin dilewati ketika kita harus hidup dengan pilihan yang kita sukai, bagaimanapun itu adalah pilihan sendiri. Tapi bagaimana ketika pilihan itu tidak ada yang berkenan dihati ? bagaimana kita harus menjalani dan menyukainya. Saya merasa sangat tersiksa ketika pilihan yang saya ambil sudah tidak menyenangkan lagi, rasanya ingin segera menyudahi semuanya. Tapi saya bukan anak kecil, saya harus menerima dan menjalani apa yang sudah menjadi pilihan sejak awal.

Dan pada titik itu, pada saat merasa tersiksa seperti itu, toh kita masih memiliki pilihan, kita bisa memilih untuk melanjutkan situasi seperti itu atau memilih untuk meninggalkannya. Disisi lain, bagaimana jika kita dihadapkan pada pilihan2 yang tidak berkenan, tidak ada yang berkenan dihati. Atau sebenarnya pada saat itu kita seperti tidak memiliki pilihan apapun sehingga harus menerima apa yang ada. Disitulah tantangan paling berat menurut saya, apalagi bagi orang2 yang selalu menuruti kata hati, padahal tak ada satupun pilihan yang berkenan dihatinya.

Apakah sebenarnya pada situasi seperti itulah ujiannya dimulai, apakah disitu akan dinilai kemampuan kita untuk mensyukuri apapun pilihan yang diberikan. Menyukai atau mencintai sesuatu atau seseorang yang kita pilih sesuai keinginan itu bukanlah hal yang sulit. Tapi lain situasinya bila pilihan itu tak sesuai kehendak hati, apakah kita masih bisa berterima kasih dan bersyukur atas pilihan yang diberikan ?

Apakah ini situasi dimana kita harus bersikap ikhlas, sikap yang sampai sekarang pun saya masih belajar untuk melakukannya. Dan akhirnya memilih untuk ikhlas adalah hal yang paling melegakan walaupun sulit dilakukan.

Advertisements